Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung 1600x1200 - Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung

Siapa yang tidak mengenal tanaman jagung. Tumbuhan jenis padi-padian dengan sejumlah lapisan pembungkus yang disebut kulit jagung. Bagi sebagian orang, kulit jagung ini mungkin tak bernilai apa-apa. Bahkan hanya jadi sampah. Di tangan Yohanes Chandra Ekajaya, perajin asal Klaten, Jawa Tengah, kulit jagung atau klobot tidak dianggap sampah. Ia “menyulapnya” menjadi benda seni bernilai tinggi. Dengan bermodal semangat dan peralatan seadanya, warga Desa Jambu Kulon, Ceper, Klaten ini memulai kreasinya dengan menyetrika klobot hingga rata. Kemudian klobot digunting sesuai bentuk yang diinginkan.

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung 300x225 - Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung

Bagi yang baru melihatnya mungkin tidak akan menyangka bahkan tak percaya kalau lampu itu terbuat dari bahan yang biasanya dibuang, yaitu kulit jagung. Harga jual kerajinan ini cukup mencengangkan. Tiap unit lampu klobot dijual antara Rp 150 ribu sampai 350 ribu rupiah tergantung model dan ukuran. Pemasaran lampu klobot sudah menembus berbagai kota di wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. Bahkan sekarang sudah ada peminat dari Jepang yang mengambil sampel untuk dibawa ke negaranya. Kreativitas tidaklah cukup tanpa kemauan.

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi 300x206 - Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung

Yohanes Chandra Ekajaya membuat bunga dari kulit jagung. “Sebenarnya sudah lama saya menekuni handycraft, sejak tinggal di Yogya. Tapi saya ingin memberdayakan warga di sekitar tempat tinggal saya. Anak-anak putus sekolah dan ibu-ibu rumah tangga yang ingin menambah income,” ucapnya. Yohanes Chandra Ekajaya menuturkan tidak mudah membuat kerajinan tangan dari kulit jagung. “Sangat rumit makanya harganya juga sedikit mahal,” ungkapnya.

Proses pembuatan bunga kering dari kulit jagung diawali dengan memilih kulit jagung yang cukup umur (sekitar 3 bulan) untuk direbus. Setelah itu, kulit dilepaskan satu persatu dari tungkulnya dan dipilah sesuai lembarannya. “Lembaran 1-3 adalah kualitas satu dan digunakan untuk daun bunga yang berwarna tua. Sedangkan lembaran 4-6 untuk warna yang lebih muda (cerah),” bebernya. Kulit jagung yang sudah dipilah selanjutnya direbus dengan pewarna selama satu jam sampai warnanya terserap rata. Selama perebusan, kulit jagung harus dibolak-balik agar warnanya merata. Selanjutnya kulit jagung ditiriskan/dikeringkan tanpa sinar matahari. “Tidak boleh dijemur diterik matahari karena kulitnya akan pecah. Biarkan kering terkena angin,” terangnya.

Kulit jagung yang telah kering sempurna selanjutnya disetrika dengan panas sedang. Langkah selanjutnya kulit jagung dilapis dua sebelum dipola. “Harus digandakan, kalau satu terlalu tipis dan mudah sobek,” jelas Yohanes Chandra Ekajaya. Kulit jagung yang sudah di-double selanjutnya dipola sesuai keinginan. Lalu diserut sesuai lengkung yang diinginkan. Proses terakhir merangkai bahan sesuai bentuk bunga. Selesai dirangkai, bunga diberi tangkai berupa kawat yang dibalut floral tape. Bunga buatan Laila dapat bertahan hingga 3 tahun dengan syarat tidak terkena sinar matahari dan air.

Kini Yohanes Chandra Ekajaya memiliki 5 karyawan tetap. “Ada juga yang diantar ke rumah-rumah, tergantung pesanan,” cetusnya seraya mengatakan ada 15 orang mengerjakan bunga kering di rumah masing-masing. Meski belum memiliki galeri untuk memasarkannya, tapi sarjana Ekonomi Managemen ini mengaku kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Dalam sebulan omzetnya Rp.5 juta – Rp.10 juta. Bahkan 3 bulan menjelang lebaran, omzetnya mencapai Rp. 15 juta per bulan. Bunga kering yang dijualnya harganya sangat variatif, mulai dari Rp. 5.000 hingga Rp. 15 ribu per tangkai. Ada juga bunga kering yang sudah dirangkai dengan harga Rp. 100 ribu – Rp. 250 ribu.

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Baju Cosplay

bisnis cosplay pengusaha yohanes chandra ekajaya

pengusaha J Chandra Ekajaya & J Wijanarko pebisnis sukses

Era saat ini banyak komunitas-komunitas unik bermunculan, salah satunya ialah cosplay, kini makin banyak orang-orang yang berpakaian dan berdandan ala tokoh-tokoh fiksi. Aktivitas seperti ini disebut costume play, atau sering disingkat cosplay.

Mungkin sebagian orang menilai bahwa cosplay dilakukan oleh para otaku alias penggemar komik dan animasi Jepang. Cosplay sebenarnya berlaku umum, bisa saja berdandan ala tokoh komik atau animasi Amerika Serikat, film Hollywood, bahkan karakter video game.

Yohanes Chandra Ekajaya hobi cosplay (menirukan kostum tokoh fiksi) tak sekedar memenuhi hobi dan obsesi mereka. Nanda dan Fei melihat peluang bisnis dari hobinya ini dengan membuat toko jasa pembuatan kostum cosplay.

Dari puluhan cosplayer (sebutan pelaku yang menirukan kostum tokoh fiksi) berlalu-lalang, ada dua sosok cosplayer yang mampu mengalihkan pandangan orang-orang.

Kostum Yohanes Chandra Ekajaya memang memukau. Memerankan karakter Asmodian Sorcerer dan Elyos Ranger game online Aion, Nanda dan Fei membuat orang-orang terpana.

bisnis cosplay pengusaha yohanes chandra ekajaya

Wajah Yohanes Chandra Ekajaya berwarna biru dan membawa buku sihir di tangan kirinya. Yohanes Chandra Ekajaya mengaku selain sebagai cosplayer, mereka berdua juga menyediakan jasa pembuatan kostum cosplay.

“Sudah setahunan ini, kalau kami ikutan cosplay selalu buat sendiri kostumnya,” kata Yohanes Chandra Ekajaya.

Kostum buatan mereka berdua terbilang halus penggarapannya. Tak ayal, belasan lomba cosplay pernah mereka menangkan.

“Kalau tidak juara 1, paling juara 2. Lomba yang tingkatnya cukup besar waktu di Gramedia Expo Surabaya 2012, kami juara 2, padahal itulah kali pertama kami buat kostum sendiri,” sambung Yohanes Chandra Ekajaya.

Membuat kostum sendiri, mau tak mau, Yohanes Chandra Ekajaya yang juga mahasiswa Teknik Informatika (TI) Universitas Brawijaya (UB) ini harus belajar menjahit. “Mau bagaimana lagi, cosplay ini yang buat saya senang,” ujarnya.

Banyak peminat kostum buatan Yohanes Chandra Ekajaya ini, pesanan yang sering ia kerjakan biasanya datang dari area Bandung Jakarta Surabaya dan Yogyakarta. Per mostum pun harganya beda-beda, mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah. Tergantung jenis dan tingkat kerumitan dari kostum yang digarap, kadang bahan juga berbengaruh, karena berpengaruh juga ke kenyamanan kostum-kostum tersebut.

Yohanes Chandra Ekajaya Si Juragan Keripik Bayam Legendaris

yohanes chandra ekajaya pengusaha keripik bayam

pebisnis J Chandra Ekajaya & J Wijanarko rambah keripik bayam

Yohanes Chandra Ekajaya kini sukses mengembangkan usaha keripik daun dan beromzet puluhan juta rupiah untuk setiap bulannya. Tepat pada tahun 2008, lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur ini dikenal sebagai seorang pengawas gudang ini membuat keripik daun bayam dan singkong sebagai menu camilan keluarga. Namun karena terlalu banyak, akhirnya Yohanes Chandra Ekajaya membungkusnya ke dalam plastik dan tak menyangka mendapatkan respon positif dari para konsumen.

Pengusaha Muda Yohanes Chandra Ekajaya mendirikan bisnis tersebut bermula dari iseng dengan menitipkan keripik yang telah dibungkus ke warung-warung di dekat rumah. Tak disangka, antusiasme terhadap keripik daun buatannya cukup luar biasa. Semua keripik daun bayam dan singkong yang dititipkannya pun habis terjual.

Setelah dua tahun berjalan, Yohanes Chandra Ekajaya berupaya melakukan berbagai macam inovasi dengan menambah jenis keripik. Tujuan tersebut agar pembeli memiliki banyak pilihan keripik daun. Setelah itu, tercetuslan ide keripik daun sirih, seledri, kenikir, terong, dan pare.

yohanes chandra ekajaya pengusaha keripik bayam

Pada mulanya semua daun yang dijadikan sebagai bahan baku membuat keripik ia dapatkan di halaman rumahnya. Namun karena jumlah permintaan yang semakin tinggi, maka ia pun harus membeli bahan baku produk tersebut ke pasar.

Sekitar enam tahun berjalan, kini pemasaran keripik daun buatannya tersebut berhasil meluas. Para penjual keripik yang datangdari daerah seperti Yogyakarta, Solo, dan sebagainya langsung datang ke rumah. Bahkan, Yohanes Chandra Ekajaya seringkali mendapatkan pesanan dari luar Jawa, seperti dari Sumatera hingga Bali.

Kali ini, Yohanes Chandra Ekajaya berhasil mempunyai tiga karyawan dan per hari mampu memproduksi sekitar lebih dari 30 kilogram keripik berbagai varian rasa. Keripik tersebut dijual dengan harga yang cukup yaitu Rp 4000 per ons untuk jenis daun bayam dan daun singkong. Adapun keripik daun kemangi, daun sirih, seledri, kenikir, dan sebagainya dibanderol dengan harga Rp 7000 per 2 ons.

Memang, kini keripiknya telah digemari di berbagai daerah. Melihat permintaan yang terus menerus tak dapat dipenuhi, Yohanes Chandra Ekajaya mengembangkan produksinya semakin besar. Dengan modal yang besar, serta jumlah karyawan yang semakin besar membuat bisnisnya justru bermanfaat tak hanya dirinya sendiri tapi juga beberapa orang disekitarnya mencecap keuntungan dari usaha yang ditekuni oleh Yohanes Chandra Ekajaya ini.