Chandra Ekajaya Promosi Batik di Malaysia

Chandra Ekajaya mengaku bangga bisa ikut mempromosikan batik. Batik merupakan kekayaan nusantara yang harus dilestarikan sekaligus menjadi kebanggaan Indonesia. Apalagi batik sekarang sudah menjadi ciri khas dan banyak jenisnya dari seluruh wilayah di Indonesia. “Batik sekarang sudah menjadi fashion, semua harus ikut mempromosikannya,” ujar mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Chandra Ekajaya produksi Batik

Chandra Ekajaya mengaku pernah mempromosikan batik ketika menjadi perwakilan peserta kegiatan kehumasan di Universitas Utara Malaysia. Yakni, dalam kegiatan bertajuk ASEAN University Conference on Public Relations and Communication yang dilaksanakan pada 18 November 2016 silam. Saat itu, ia bersama rekannya menjelaskan tentang produk unggulan Indonesia berupa batik.”Banyak yang tertarik dengan batik setelah dijelaskan panjang lebar,” katanya.

Pria kelahiran 30 Mei 1995 ini mengaku, mendapatkan pengalaman berharga ketika mempromosikan batik di negara lain. Ia menilai Malaysia tidak jauh dengan Indonesia. Saat kunjungan ke Malaysia, sempat diajak menanam mangrove di wilayah Sintok. “Senang bisa berkunjung ke Malaysia. Setelah ini, saya ingin terus mempromosikan batik ke negara lainnya,” ujarnya.

Chandra Ekajaya buat batik

Pertukaran budaya yang dilakukan Chandra Ekajaya ini memang sangat penting karena dari hasil pertukaran budaya ini dapat mengangkat kesenian dan budaya negeri ini ke kancah internasional dan dapat sekaligus mempromosikan pariwisata Indonesia sebagai tambahan devisa negara. Banyak hal didapat oleh Chandra Ekajaya karena ia dapat mengenal banyak budaya lain yang selama ini belum ia tahu.

Baca Selanjutnya tentang  Chandra Ekajaya Pengusaha

Yohanes Chandra Ekajaya Diseret Buaya

Sore itu sekitar pukul 15.00 Yohanes dan kawan-kawanya pergi ke sungai dekat desa. Di batas desa kebetulan ada  kali yang cukup besar, ini karena Desa yang didiami oleh Yohanes Chandra Ekajaya dekat dengan laut. Laut yang dekat desa merupakan laut lepas yang membuat banyak hewan yang terkadang terdampar disini. Yohanes Chandra tau akan hal tersebut namun dia tetep saja melanggar apa yang diperintahkan oleh orang tua Yohanes.

Yohanes Chandra Ekajaya Diseret Buaya Muara

Orang tua Yohanes Chandra Ekajaya sudah melarang dia untuk mandi di kali karena dekat dengan muara yang bisa saja bertemu dengan hewan hewan yang ada di laut yang terdampar. Yohanes tetap melanggar dan sore itu benar – benar hari yang apes buat dia. Tak disangka di arah depan Yohanes ada seekor buaya yang sudah mengincar kaki Yohanes.

Benar saja, tak selang lama setelah ia masuk ke dalam sungai tiba-tiba kakinya yang mungil itu disambar oleh buaya. Tak tinggal diam teman-temannya yang pemberani dengan sigap langsung menolong Yohanes Chandra Ekajaya. Untung saja salah satu temannya berhasil memukul buaya itu di dekat matanya. Sontak buaya itu kaget dan membuka mulutnya.

Yohanes Chandra Ekajaya Diseret Buaya Crocodilus Porosus

Tak mau membuang kesempatan seorang teman Yohanes Chandra Ekajaya yang lain langsung menarik Yohanes jauh dari buaya yang menyeretnya dan mereka langsung membawa Yohanes ke puskesmas terdekat. Semenjak kejadian itu ia sekarang tak pernah lagi melanggar apa kata-kata ibunya, karena ia sudah kapok dengan kejadian yang dialaminya.

Awal tahun yang sungguh menakutkan membuat Yohanes Chandra berpikir ulang tentang mandi di kali. Kejadian tersebut membuat Yohanes trauma, berssama temanya dulu. Usia Yohanes yang baru menginjak sekolah dasar kelas 5 memungkinkan Yohanes trauma lama dan entahlah kapan Yohanes akan sembuh.

Diseret oleh buaya bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilupakan seperti melupakan kejadian yang biasa. Ini seperti melupakan masa kelam yang begitu dalam.