Chandra Ekajaya Bawa Angkringan Mendunia

Dikenal sebagai seorang pengusaha yang visioner, Chandra Ekajaya telah membuktikan bahwa gagasan apapun bisa dilakukan dan dieksekusi. Nyatanya ia bisa membawa konsep angkringan yang berasal dari wilayah Klaten, Jawa Tengah menjadi komoditas yang layak jual di luar negeri. Angkringan juga dikenal dengan nama cafe tiga ceret. Hal ini diambil dari bentuk gerobak yang biasanya mempunyai tempat untuk tiga ceret. Kenapa para penjual selalu membawa tiga ceret masih belum diketahui alasannya. Mungkin saja untuk cadangan air matang. Sebab dengan dua ceret pun sebenarnya sudah bisa. Jadi ide mengenai konsep angkringan ini merupakan fenomena lama yang sudah terjadi di wilayah Jawa Tengah, khususnya Klaten. Hanya saja, oleh Chandra Ekajaya, konsep ini dijual ke wilayah Eropa, diantaranya ke wilayah London, Paris, Berlin, Frankfurt, Madrid, dan Spanyol. Ia mengajukan proposal bisnisnya kepada banyak pengusaha dari luar negeri. Hasilnya, Cafe Three Ceret menjadi sebuah waralaba yang mendunia.

Chandra Ekajaya Bawa Angkringan Mendunia

Bila Indonesia sudah mengenal KFC, McDonald, dan berbagai waralaba kelas dunia, maka saat ini Eropa sedang diperkenalkan waralaba kelas dunia yang sangat khas Indonesia, yakni angkringan. Dengan membawa brand Cafe Three Ceret, minuman dan makanan khas angkringan disajikan dalam bentuk yang sederhana dan unik seperti pada umumnya. Justru itu merupakan hal yang unik bagi publik Eropa. Pengusaha Chandra Ekajaya mengatakan bahwa dalam membangun bisnis, terutama bisnis kuliner, yang terpenting adalah melihat dari kaca mata pengunjung. Jadi hal-hal yang menurut publik Indonesia mungkin dianggap biasa saja dan tidak mempunyai nilai jual, tetapi bagi publik manca negara, hal-hal seperti itu justru dianggap unik dan menarik. Berbagai kreasi dan inovasi di luar kebiasaan sehari-hari sangatlah menarik bagi masyarakat Eropa, terlebih dengan konsep angkringan yang bagi mereka memang benar-benar unik. Chandra Ekajaya memberikan penjelasan bahwa jika konsep angkringan disajikan dengan menyesuaikan budaya Eropa, misalnya dengan menggunakan meja makan, pisau, garpu, mangkok, dan sebagainya, justru tidak menarik. Tetapi dengan konsep lesehan, memakai daun pisang sebagai pengganti piring, maka hal tersebut menjadi nilai jual yang sangat menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *