Chandra Ekajaya: Ilusi Kapitalisme Pendidikan

Pengusaha Chandra Ekajaya, di bulan Maret ini mencoba mengingatkan masyarakat sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia untuk merefleksikan sistem pendidikan yang sudah dijalankan oleh negara ini. Seperti yang pernah disinggung oleh dirinya di beberapa tulisan yang lalu, bahwa pendidikan merupakan ujung tombak dari kebudayaan. Bahkan beberapa pendiri bangsa menyebutkan bahwa pendidikan adalah cara yang paling jitu dan ampuh untuk membangkitkan roh serta semangat bangsa untuk terus maju. Sepertinya rakyat dan pemerintah saat ini sudah mulai sadar bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Mereka pun sedang meneliti pendidikan-pendidikan masa lalu yang pernah dipraktikkan di Imperium Nuswantara. Mereka mengambil nilai-nilai yang bermanfaat, kemudian mengelaborasinya dengan kebutuhan di masa sekarang. Setidaknya bangsa dan negara ini sudah mulai peduli dengan kebutuhan generasi mudanya akan sistem pendidikan. Pemuda merupakan tulang punggung kehidupan negara. Itulah harapan yang membuat bangsa dan negara ini masih optimis.

Bila berbicara regenerasi, maka generasi muda inilah yang nantinya akan menggantikan generasi sebelumnya menduduki jabatan pemerintahan. Baik dalam lingkup nasional, provinsi, kabupaten atau kota, kecamatan, kelurahan, hingga wilayah kampung atau desa. Bagaimana pun juga merekalah yang akan menentukan nasib bangsa dan negara ini untuk masa-masa yang mendatang. Oleh sebab itu, sistem pendidikan tidak boleh tak diacuhkan, sebab bila nantinya sistem pendidikan ini diabaikan, maka sangat mengerikan bila membayangkan akan menjadi seperti apa nantinya bangsa dan negara ini. Para pemangku kebijakan yang diamanahkan untuk mengelola sistem pendidikan Indonesia menjelaskan bahwa tujuan dari pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik supaya menjadi manusia yang yakin, percaya, beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sudah masuk di dalam formula dasar negara dan bangsa ini, yakni Sila Pertama Pancasila. Kemudian tujuan yang lainnya adalah supaya generasi muda bangsa ini nantinya mempunyai akhlak yang mulia, berpengetahuan, kreatif serta inovatif dan mandiri.

Chandra Ekajaya Ilusi Kapitalisme Pendidikan

Tanggungjawab merupakan kewajiban bagi seluruh warga negara dan rakyat Indonesia. Supaya ilmu atau pun pendidikan yang didapatkan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu pemerintah juga berperan aktif dalam menciptakan sistem pendidikan yang sesuai bagi generasi muda untuk masa depannya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pun tujuan didirikannya negara Indonesia ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan dalam pasal di dalamnya, negara ini mempunyai visi dan misi yang mendunia. Bagaimana tidak? Lihat saja bab yang berbicara mengenai pendidikan. Dikatakan dalam pasal tersebut bahwa tujuan pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk persatuan bangsa dan bagi kemajuan peradaban serta kesejahteraan manusia. Meskipun tampak mulia dan sangat berperan aktif dalam pendidikan dunia, sayangnya hasil yang dirasakan oleh masyarakat tidak seperti yang didambakan dan dicita-citakan oleh bangsa dan negara ini. Bisa disebut negara ini telah gagal menghasilkan generasi muda yang terdidik dan mencerdaskan. Banyak sekali peristiwa dan fenomena yang mengiris dan menyayat hati.

Misalnya saja banyak anak sekolah yang justru tawuran. Mereka lebih suka berkelahi, itu pun tidak secara jantan. Inilah kesalahan karena sistem pendidikan yang dianut oleh bangsa dan negara ini menggunakan sistem pendidikan Barat dan Timur Tengah. Jika sistem pendidikan yang dianut oleh Indonesia merupakan sistem pendidikan peninggalan leluhur, maka tawuran antarpelajar tidak akan pernah terjadi. Setidaknya jika mereka berkelahi, mereka akan berkelahi secara jantan dan kesatria. Jika sistem pendidikan leluhur yang digunakan, maka tidak mungkin terjadi kasus-kasus yang tidak bermoral, seperti pergaulan bebas, aborsi, narkoba, dan bahkan pembunuhan. Perilaku dan sikap kriminal seperti ini yang berbahaya bagi masa depan bangsa dan negara ini. Sistem pendidikan yang dianut oleh negara ini justru hanya menghasilkan banyak pecundang dan orang yang senang dengan maksiat. Artinya sudah sangat jelas bahwa ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia, apakah itu? Kesalahan itu bernama kapitalisme pendidikan. Meskipun tidak mengklaim, tetapi nilai, sifat, dan bentuknya sudah mendarah daging di pendidikan Indonesia.

Bagi kapitalisme, pendidikan adalah barang mewah. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan aksesnya. Banyak anak-anak yang kurang mampu secara finansial akhirnya tidak bisa mengakses pendidikan yang nantinya berguna untuk mengangkat harkat dan derajatnya. Maka tidak bisa disalahkan bila akhirnya mereka terjun ke dunia kriminal karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Permasalahannya sungguh sangat rumit. Bahkan pelajaran yang berhubungan dengan moral, misalnya saja pelajaran agama pun ilmu-ilmu yang diberikan hanya sebatas hafalan untuk meraih nilai yang tinggi pada saat ujian. Sedangkan substansi ilmu tersebut yang berguna sebagai panduan dan pedoman hidup justru diabaikan. Maka sangat wajar jika sistem pendidikan hari ini hanya menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai prestasi tinggi tetapi secara roh dan semangat sangat kering. Titik utama permasalahan ini adalah adanya pemisahan antara pendidikan, seni, dan spiritualitas. Padahal ketiga hal tersebut merupakan manifestasi dari kebudayaan. Ketiganya merupakan ujung tombak pada sektornya, dan saling berkaitan.

Chandra Ekajaya Kapitalisme Pendidikan

Sistem kapitalisme dalam pendidikan menjadikan setiap pendidik atau pun lembaga pendidikan sangat berorientasi pada uang. Karena itu biaya pendidikan semakin mahal, sedangkan pemerintah untuk menggaji para guru untuk dapat bertahan hidup pun masih kesusahan. Inilah yang dimaksudkan dengan ilusi kapitalisme pendidikan, dimana sistem tersebut seolah-olah memberikan tawaran masa depan yang cerah dan gemilang, serta bisa dijadikan jaminan, karena menurut salah satu universitas negeri yang terkenal pendidikan adalah investasi peradaban. Pengusaha Chandra Ekajaya sangat tidak sepakat dengan sistem pendidikan yang berorientasi uang tersebut. Ia justru menganjurkan supaya bangsa ini kembali menggali sistem pendidikan peninggalan leluhur. Sehingga seluruh elemen masyarakat dapat merasakan pendidkan yang mencerdaskan. Tetapi setidaknya pemerintah memang sudah mengupayakan untuk memberikan pendidikan gratis, meskipun dengan kualitas yang sangat rendah, karena bagaimana pun negara ini sedang mengalami defisit keuangan. Di dalam sistem kapitalisme, kekayaan negara tidak akan pernah cukup, karena kekayaannya hanya dikuasai oleh beberapa orang. Sehingga kepemilikian modal tidak merata, makanya negara mengalami defisit.

Pengusaha Chandra Ekajaya menjelaskan bahwa sejarah masa lalu Indonesia adalah solusinya. Karena zaman dahulu dikisahkan bahwa penduduk manca negara justru belajar ke Indonesia, terutama di kawasan Sriwijaya. Kemudian untuk penduduk Nuswantara diberikan tempat khusus untuk belajar di pulau Jawa, tepatnya di kerajaan Lemuria. Bila pemerintah dan rakyat Indonesia mau belajar dari masa lalu, kemudian belajar untuk menyesuaikan dengan kebutuhan di zaman sekarang, lalu berusaha untuk melampauinya, maka bangsa dan negara ini akan menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan teknologi dari seluruh dunia. Maka tidak menutup kemungkinan jika di masa lalu rakyat Nuswantara sudah menjadi poros sekaligus rujukan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi dari seluruh dunia. Hal ini bisa dibuktikan melalui bahasa dan bangunan-bangunan arsitekturnya.

 

Selanjutnya Tentang Pengusaha Sukses Chandra Ekajaya Young Entrepeneur!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *