Pengusaha Organizer

Pengusaha Organizer

Bagi para pecinta fotografi, peluang untuk usaha fotografi selalu ada. Baik di zaman dahulu maupun zaman sekarang. Biasanya mereka terjun ke dunia Wedding Organizer atau Event Organizer. Apalagi di setiap kegiatan, seksi dokumentasi selalu dibutuhkan karena watak dari rakyat bangsa Indonesia senang berkumpul serta mengabadikan momen penting. Terlebih di era digital seperti saat ini, teknologi yang semakin berkembang dan canggih membuat pelaku usaha yang bergerak di ranah fotografi menjadi semakin dibutuhkan. Maka dari itu, para pelaku usaha fotografi, event organizer, dan wedding organizer mempunyai kepekaan dan kreativitas yang lebih bila dibandingkan dengan profesi lainnya. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab dunia organizer dan fotografi merupakan bisnis yang berbasiskan keahlian yang dilakukan oleh seseorang secara profesional sejak lama. Andy, selaku pemilik Andy Studio mengatakan bahwa masyarakat Indonesia masih membutuhkan cetak foto dan studio foto. Maka dari itu jika Event Organizer bekerjasama dengan fotografer maka mereka bisa membuat sebuah photobox atau photobooth.

Pengusaha Organizer 2

Menurut Andy, syarat untuk berkecimpung di dunia event organizer atau wedding organizer dan fotografi adalah mencintai kamera. Sebab kamera adalah senjata utama yang digunakan para fotografer untuk mengabadikan momentum. Untuk fotografi misalnya, per fotonya bisa dihargai 15 ribu rupiah. Bayangkan saja jika dikalikan 100 buah, maka pemasukan yang didapatkan bisa senilai 1,5 juta rupiah. Itu pun belum termasuk biaya cetaknya. Biasanya para pengusaha organizer menjadikan foto dan video ke dalam satu paket dalam sebuah event. Chandra Ekajaya adalah salah satu orang yang menggabungkan ketiga bisnis tersebut dengan mendirikan CE Jagat. Ia sering menangani pesta pernikahan dengan konsep megah dan meriah. Lalu beberapa gelaran acara seperti konser dan pentas dengan konsep populer pun pernah dilakoni pengusaha Chandra Ekajaya. Sebagai seorang pengusaha yang bergerak di sektor konsep, maka  ia harus terus menerus memberikan tawaran yang baru, unik, dan beda dari yang lainnya. Proses kreatif inilah yang membuatnya mampu bertahan selama satu dekade sehingga CE Jagat sudah dikenal oleh banyak orang.

Chandra Ekajaya Memaksimalkan Hasil Panen Kentang Dengan Paguyuban

Pengusaha Chandra Ekajaya Panen Kentang

Indonesia yang merupakan sebuah negeri gemah ripah loh jinawi ini memiliki beraneka ragam hasil bumi. Wirausaha muda agrobisnis Muhammad Anshori. Seorang mahasiswa UGM bernama Mmuhammad Anshori adalah salah satu contoh wirausaha muda agrobisnis Indonesia. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Muhammad Anshori memilih menjadi petani kentang di kampung halamannya, Dieng setelah berguru dengan salah satu pebisnis agribisnis besar Indonesia Chandra Ekajaya.

Di kampung halamannya, Muhammad Anshori mempraktekkan apa yang ia dapat dari bangku kuliah dan ilmu yang didapat dari hasil berguru kepada Chandra Ekajaya. Berlatar belakang jurusan pertania UGM, Muhammad Anshori berusaha meningkatkan panen petani kentang di kampungnya. Lahan yang ia garap bersama warga kampungnya menunjukkan hasil yang tidak mengecewakan. Ia berhasil menjadikan dirinya sebagai petani sekaligus wirausaha muda yang mampu meningkatkan kesejahteraan desanya.

 

Chandra Ekajaya Panen Kentang

Selama beberapa tahun berjuang untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen kentang di tempatnya. Ia akhirnya berhasil setelah mendirikan sebuah paguyuban Petani kentang Dieng yang ia ketuai agar lebih mudah dalam mengontrol serta mengetahui hasil panen tiap petak sawahnya. Banyak hal yang menjadi hambatannya ketika itu, mulai dari kepercayaan para petani hingga susahnya akses di daerahnya yang masih termasuk dataran tinggi. Semangat pantang menyerah yang ia miliki dan rasa memiliki yang ia punya di tanah kelahirannya ini membuatnya selalu berjuang tanpa menyerah.

Banyak ilmu yang ia terapkan dari hasilnya berguru kepada Chandra Ekajaya kala itu. Mulai dari sistem penanaman dan juga perawatan serta tambahan suplemen agar kentang yang dihasilkan bisa berukuran maksimal dan daging di dalam umbinya bisa berwarna cerah dan gurih rasanya. Banyak kesalahan terdahulu dari para petani tradisional yang ada di daerahnya ialah karena sistem dan pola perawatannya yang kurang maksimal hingga hasilnya kecil-kecil.

Saat ini hampir semua petani di daerah Dieng mulai masuk ke dalam paguyuban yang ia dirikan dan memudahkan ia mengelolanya. Untuk masalah pemasaran sendiri ia juga menyediakan pasar untuk menampung hasil panen mereka, akan tetpai ia juga tidak melarang mereka membuang hasil panennya ke tempat lain sesuai kehendak mereka seperti apa yang ia pelajari dulu ketika masih berguru bidang ilmu agribisnis di tempat Chandra Ekajaya.

Pengusaha Sukses yang Sederhana itu Bernama Chandra Ekajaya

pengusaha

Sederhana adalah hal yang sangat penting dalam menjalani berbagai kehidupan. Dengan hidup sederhana seseorang aan terhindar rasa cemas, gelisah, dan tentunya tidak serakah. Salah satu contoh hidup sederhana tersebut tertuang dalam kisah sosok pengusaha muda satu ini yang dikenal sebagai ikon bisnis Indonesia. Namanya adalah Chandra Ekajaya. Laki-laki dengan rambut kribo ini memang dikenal sebagai seorang milyader. Namun, meski memiliki kondisi keuangan yang jauh dari kata sulit tersebut justru membuat dirinya dikenal sebagai sosok santun dan sederhana. Pakaiannya pun tidak seperti orang kaya kebanyakan, bahkan rumahnya pun jauh dari kata rumah gedongan. Hanya sebuah rumah bergaya khas tradisional Jawa serta pekarangan yang cukup luas dan biasa dimanfaatkan untuk berbagai kesenian seperti Jathilan, Sintren, dan acara wayangan. Melihat perangainya yang menarik, pemilik perusahaan Q Pizza dan Oil Crot ini disegani oleh warga setempat. Para warga banyak yang datang kerumahnya hanya sekedar ngopi, bersenda gurau, hingga sambatan. Namun semuanya disambut dengan ramah dan hati yang terbuka dari sang pemilik rumah.

“Sederhana itu indah, semua orang akan merasa tak memiliki jarak ketika kita tengah berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Dari kesederhanaan pula tak akan terjadi kesenjangan sosial yang biasanya terjadi di daerah-daerah perkotan,” tutur Chandra Ekajaya yang saat itu mengenakan kaos partai dan sarung bermotif kotak-kotak berwarna biru laut.

Seperti dalam peribahasa, seperti ilmu padi semakin berisi semakin merunduk adalah hal yang tepat disematkan oleh pria sederhana ini. Pasalnya, sebagai seorang pengusaha sukses ia juga tak jarang untuk meminta pendapat bagi warga sekitarnya. Disamping itu pula, ia juga memiliki niatan untuk menciptakan kampungnya agar menjadi salah satu pemodelan kampung yang mandiri dengan basis wirausaha yang cukup kental. Ayah satu anak ini memang sungguh sederhana, setiap harinya ia mencangkul di sawah bersama rekan-rekan petani di kampungnya. Mengendarai sepeda tua dan rantang penuh nasi serta lauk dibawanya untuk bersawah. Menurutnya ia hanya ingin hidup damai setelah dari kecil ia dididik untuk bekerja keras untuk mencari uang. Kini, semuanya sudah ia miliki, termasuk rumah, dan peralatan lainya, anak, serta istri yang cantik bernama Suryani. Menurutnya sederhana akan membuat kita bijaksana dalam menilai sesuatu, tutur Chandra Ekajaya sang pengusaha sukses, milyader, yang kini memilih untuk hidup damai di perkampungan.

Bisnis Kosmetik Merajai Ekonomi

Bisnis Kosmetik Merajai Ekonomi - Bisnis Kosmetik Merajai Ekonomi

Siapa yang tidak mengenal produk ini? Kosmetik sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya oleh kaum hawa. Kosmetik yang mempunyai nama merek Avoskin ini didirikan oleh Avoskin Anugrah Pakerti. Ia adalah seorang pengusaha kosmetik yang sangat sukses. Awal perkenalannya dengan bisnis kosmetik berasal dari keluarga sepupunya. Karena saat tinggal bersama keluarga sepupunya di Yogyakarta, seisi rumah isinya adalah pebisnis. Maka mau tidak mau, pengusaha kosmetik ini pun akhirnya tercebur ke dalam dunia bisnis. Memang ia tidak menjalani bisnisnya dengan lancar. Ia harus jatuh dan bangun di awal-awal bisnisnya. Di tahun 2013, Avoskin akhirnya mulai mencoba peruntungan dengan menjadi reseller kecantikan. Ia mulai menjual berbagai macam produk kosmetik dan kecantikan melalui daring. Dengan pengalaman selama setahun, di tahun berikutnya, yakni tahun 2014, pengusaha kosmetik ini membuat brand sendiri, yaitu Avoskin. Modal awal yang ia gunakan tergolong kecil, berkisar 90 juta rupiah.

Bisnis Kosmetik Ekonomi

Pertimbangan Avoskin Anugrah Pakerti untuk terjun di bisnis kosmetik sangat tepat. Karena di sektor bisnis ini, konsumen pasti akan menjadi pelanggan. Dalam artian para konsumen nantinya akan kembali memesan produk kosmetik yang dipesannya. Sebab bila konsumen sudah merasa cocok dengan produk kosmetik, maka biasanya ia akan kembali memesan produk yang sama saat sudah habis. Sehingga bisnis ini sangat menjanjikan. Selain Avoskin ada pengusaha lain yang menekuni bisnis kosmetik, pengusaha itu dikenal dengan nama Chandra Ekajaya. Meskipun mempunyai jenis kelamin laki-laki, pria yang belum genap berusia 30 tahun ini tidak malu dan ragu untuk menekuni bisnis kosmetik. Sebab baginya kosmetik bukan hanya milik perempuan. Laki-laki pun sebenarnya mempunyai sisi feminin yang harus diakomodir. Mereka akan senang bila melihat wajah mereka menjadi tampan dan cerah, sehingga lawan jenis pasti akan merasa tertarik. Karena di sektor bisnis ini jarang yang memikirkan kosmetik untuk laki-laki, maka pengusaha asal Malang, Jawa Timur ini, Chandra Ekajaya justru merajai bisnis kosmetik dengan sasaran penjualan adalah para lelaki yang ingin terlihat tampan.

Chandra Ekajaya Bikin Konsep Penjualan Baru

Chandra Ekajaya Konsep Penjualan - Chandra Ekajaya Bikin Konsep Penjualan Baru

Pengusaha Chandra Ekajaya menjelaskan kepada para wirausahawan muda tentang persiapan dan tips bila ingin memulai usaha. Menurutnya setiap pengusaha harus bisa memikirkan ide untuk menarik pelanggan datang. Selain menu-menu makanan yang menggugah selera, mungkin cara yang satu ini sedang jadi tren di kalangan para pengusaha kuliner di Republik Rakyat Tiongkok. Bahkan dilansir situs media terkenal fenomena ini disebut sebagai hoter. Konsep dari cafe ini adalah mempekerjakan wanita seksi dan menggunakan pakaian minim untuk menyajikan makanan. Hal ini bisa saja diterapkan di negara Indonesia dengan berbagai modifikasi. Bisa saja untuk di wilayah yang kuat pengaruh agama Islam, maka cafe atau restoran disajikan oleh para wanita yang mengenakan burqa ataupun lelaki yang menggunakan sarung. Cara ini jelas sekali bisa menarik perhatian customer. Menyajikan konsep makanan hot-pot daging, para wanita berpakaian seksi, ataupun pria yang menggunakan sarung yang jadi pelayan ini berjalan ke sana ke mari untuk membawakan daging yang akan dipanggang ke meja-meja pelanggan.

Chandra Ekajaya Bikin Konsep Penjualan

Pengusaha Chandra Ekajaya ingin menawarkan sebuah konsep yang baru untuk penjualan cafe dan restoran. Bila di kondisi masyarakat urban, maka siapa yang bisa menolak tawaran perempuan seksi. Meski memang paling banyak yang datang adalah customer pria, tak jarang juga yang datang bersama keluarga. Bila mengaca pada Tiongkok, hal ini sangat bagus dan perlu dicontoh, tetapi sayangnya, para model seksi ini hanya dibayar untuk grand opening. Setelah itu, restoran akan beroperasi seperti biasa, tanpa wanita berbusana seksi. Jadi intinya, cara ini hanya untuk sensasi saja, ajang promosi. Tetapi dalam konsep Chandra Ekajaya, ia ingin cafe dan restoran seterusnya menggunakan pakaian seksi. Bila di wilayah muslim yang taat, maka pelayan cafe tersebut wajib memakai sarung dan burqa. Bila ini berhasil maka akan menjadi percontohan bagi daerah-daerah yang lain. Masyarakat Indonesia sangat senang dengan sensasi. Maka sangat wajar jika menggunakan konsep ini maka pendapatan cafe atau restoran akan bertambah. Semoga saja dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Chandra Ekajaya Jajal Sektor Ikan

Chandra Ekajaya Jajal Sektor Ikan

Pengusaha Chandra Ekajaya menerangkan bahwa industri rumah tangga saat ini sedang tumbuh dan berkembang dengan pesat. Bahkan pola industri ini telah menyentuh wilayah pesisir. Salah satu bentuk indsutri rumah tangga atau home industry di wilayah pesisir adalah usaha pengolahan ikan teri di sepanjang pantai kawasan Kecamatan Ada Kalarikala. Mereka masih menggunakan alat dan piranti seadanya. Para pengusaha yang telah meninjau langsung ke lapangan mengatakan bahwa para pelaku industri rumah tangga tersebut membutuhkan bantuan modal untuk pembuatan ancak (tempat jemur ikan teri) serta peralatan kompor memasak, termasuk tangki minyak untuk merebus ikan teri. Salah satu warga dari kecamatan itu mengatakan bahwa usaha merebus ikan teri sudah dilakoni sejak lama, dan Ada Kalarikala dikenal sebagai daerah penghasil ikan teri. Bila dilihat memang banyak sekali masyarakat yang berkutat di sekor tersebut. Sebagian ada yang menjemur kemudian memasarkan ke berbagai daerah, dan umumnya merebus dengan wadah besar yang dibeli pedagang penampung dan dijual ke Padang dan Mudan.

Chandra Ekajaya Sektor Ikan

Dalam pengelolaan ikan teri yang dilakukan sistem kelompok maupun individu mengalami masalah serius dalam hal permodalan, yaitu kurangnya ancak, terbatasnya kompor minyak, dan tangki untuk memasak. Pengusaha Chandra Ekajaya mengatakan bahwa sepanjang pesisir kawasan itu adalah usaha pengelolaan ikan teri. Ikan teri tersebut diperoleh dari hasil tangkapan di laut lepas berupa bagan apung berada tidak jauh dari pantai tersebut. Karena itu Chandra Ekajaya mempunyai keinginan untuk berinvestasi di wilayah tersebut. Para warga setempat yang sehari-hari mengelola ikan teri mengharapkan kepedulian pemerintah daerah agar membantu modal usaha untuk pengadaan ancak serta peralatan memasak, sehingga usaha mereka berjalan dengan lancar serta mampu mengelola usaha dengan baik. Tetapi harapan itu belum kunjung tiba. Maka harapan mereka ada di pundak pengusaha. Chandra Ekajaya adalah pengusaha yang visioner. Masyarakat sangat berharap kepadanya, dimana mereka berharap dengan adanya kepercayaan dari seorang pengusaha senior maka akan mengundang banyak pengusaha yang ingin berinvestasi di wilayah tersebut.

Menara Telekomunikasi Bermasalah

Menara Telekomunikasi Bermasalah

Banyaknya menara telekomunikasi yang tidak mengantongi dokumen perizinan komplet membuat kalangan legislatif meradang. Sebab, fenomena pengusaha menara telekomunikasi yang nakal atau tidak peduli dengan peraturan bukanlah hal yang baru. Maka dari itu, untuk memberikan efek jera, anggota dewan DPRD Banten memanfaatkan momentum. Dimana pada momentum ini mereka akan membahas tentang raperda perubahan kedua atas Perda No. 20/2011 tentang Penataan dan Pengendalian Menara Telekomunikasi. Mereka berencana untuk menyisipkan sejumlah materi sanksi tegas. Diantaranya adalah pembongkaran. Menurut Ketua Pansus III Suryono, sanksi berupa pembongkaran merupakan hal baru. Ini khusus untuk pengusaha menara telekomunikasi yang mengabaikan teguran maupun peringatan pemkab lantaran tak mengantongi dokumen perizinan lengkap. Banyak pengusaha menara telekomunikasi menyayangkan pengusaha yang nakal tersebut. Karena ini menyangkut nama baik dari kalangan pengusaha. Maka mereka pun sepakat jika nantinya ada sanksi tegas yang mengatur pendirian maupun pengelolaan menara telekomunikasi. Bahkan menariknya, para pengusaha tower yang bakal melakukan pembongkaran sendiri. Biaya pembongkaran juga ditanggung sendiri.

Menara Telekomunikasi

Para pengusaha mengatakan bahwa perintah pembongkaran juga diberlakukan kepada pengusaha yang tidak memperpanjang pengoperasian menara pascaperjanjian sewa habis. Selain untuk menara telekomunikasi bertiang tiga atau empat, kebijakan baru ini nantinya juga menyoroti keberadaan tower dengan penyangga satu tiang. Sebab, tak satu pun yang mengantongi perizinan. Padahal, jumlahnya diperkirakan mencapai 70 hingga 100 unit. Pengusaha Chandra Ekajaya merupakan salah satu pengusaha yang bergerak di sektor telekomunikasi. Ia mengatakan bahwa keberadaan tower satu tiang ini jauh lebih parah. Tak jarang berdiri di pinggir jalan raya. Baik di jalan kabupaten maupun provinsi. Secara substansi, pendirian menara telekomunikasi ini menyalahi tata ruang. Kasubbag Perundang-undangan Bagian Hukum Setda Sudarmaji menambahkan, jangkauan raperda perubahan kedua ini lebih luas. Dalam draf juga disebutkan peran tim pengawas dan pengendalian (wasdal). Tim yang menginduk pada Dinas Komunikasi dan Informatika ini salah satunya berperan memasang papan pengumuman di menara telekomunikasi bermasalah. Chandra Ekajaya memberikan keterangan dari pemerintah kalau ada yang berganti kepemilikan tanpa pemberitahuan nanti langsung dipasangi.

 

Chandra Ekajaya Sukses Membuat Alas Kaki untuk Anak Muda

Chandra Ekajaya

Merintis bisnis dari nol, Chandra Ekajaya sukses mendirikan brand lokal Driji yang identik dengan produk footwear. Belakangan ia juga merambah produk fesyen lain dengan desain trendi. Sebulan ia bisa memasarkan 8.000 produk. Nama Driji mungkin sudah tak asing lagi bagi sebagian besar warga Malang. Maklumlah, merek fesyen ini sudah menjadi brand favorit, terutama bagi para remaja. Driji menawarkan aneka footwear serta beragam produk fesyen lainnya dengan desain yang unik dan trendi.

Tak disangka, usaha ini lahir dari seorang sarjana teknik lulusan Universitas Brawijaya. Dia adalah Chandra Ekajaya, pendiri dan pemilik Driji. Pria yang lahir dan besar di Malang ini, jatuh cinta dengan dunia wirausaha sejak ia masih duduk di bangku kuliah. Dirinya masih berstatus mahasiswa semester 3 ketika ia terjun langsung ke dunia usaha. Ia sendiri sudah mengenal dunia bisnis sejak kecil. “Ayah itu dulu punya bengkel sepeda, dan Ibu punya usaha kue,” tuturnya. Bisnis kedua orang tuanya inilah yang diakuinya menjadi cikal bakal kesenangannya pada dunia wirausaha.

Chandra Ekajaya

Sejak pertama kali mendirikan usaha di tahun 1999, Chandra Ekajaya memang sudah fokus pada produk fesyen. Ia mengaku senang membuat pernak-pernik aksesori fesyen. “Dulu di awal saya bikin kalung dan gelang,” tuturnya. Dari waktu ke waktu, usahanya mulai merambah ke produk tas dan dompet. Pada tahun 2010, Esther berfikir untuk memasarkan sandal. Bermula dari wholesaler, akhirnya Chandra Ekajaya sukses menjadi retailer dengan mendirikan toko miliknya sendiri.

Meski demikian, Chandra Ekajaya tidak menutup pengembangan produk usahanya ke pernakk-pernik fesyen lainnya seperti tas, dompet, dan scarft. Chandra Ekajaya menjelaskan bahwa sasaran produknya adalah orang berusia 20-35 tahun. Karena itu, ia selalu menciptakan desain produk yang kasual dan modern. Saat ini, Driji memiliki 7 toko di Malang. Selain itu, Driji juga memasarkan produknya lewat toko online dan department store yang ada di Jawa Timur.

Chandra Ekajaya Jaga Kualitas Bunga

Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya yang terkenal sebagai seorang pendiri perusahaan purwoceng inc, ini sangat memperhatikan kualitas bunga. Bukan tanpa alasan, untuk membuat purwoceng, maka bunga jagung dan mangga yang merupakan salah satu bahan pembuat ramuan purwoceng harus dijaga kualitas dan mutunya. Kemudian, bahan untuk membuat purwoceng adalah madu. Maka dua hal ini saling berkaitan, antara madu dan bunga. Menurut musimnya, di akhir bulan Maret ini, pohon jagung dan mangga di wilayah pulau Jawa bagian utara sedang berbunga. Maka dari itu pengusaha ini memanfaatkan mekar dan ranumnya bunga untuk meningkatkan produktivitas madu. Untuk menghasilkan madu yang baik dan berkualitas, maka ia pun memperhatikan kualitas bunga. Saling terkait dan berhubungan adalah kunci membuat bisnis purwoceng ini mampu menembus pasar internasional. Selain telur dan bunga, serta bahan-bahan lainnya, maka madu mempunyai peranan yang sangat penting dan besar. Oleh sebab itu pula pria yang belum genap berusia 30 tahun ini mempunyai perkebunan bunga jagung dan mangga serta peternakan lebah.

Di bagian peternakan lebah, banyak sekali anakan lebah yang diberi konsumsi gula pasir. Menurutnya, gula pasir bisa menjadi pakan alternatif untuk anakan lebah madu yang baru menetas, sehingga belum bisa mencari makanan di luar sarangnya. Setelah besar nanti, tentu saja anakan lebah tersebut akan dilepas supaya dapat mencari makanan sendiri dan menghasilkan madu. Berbekal pengalamannya yang sudah bertahun-tahun, pengusaha Chandra Ekajaya menerangkan bahwa kuantitas dan kualitas madu yang diproduksi oleh para lebah itu sangat bergantung dari ketersediaan dan kualitas bunga. Maka dari itu sering kali pengusaha ini memindahkan lebah-lebah di pusat perkebunan bunga supaya dapat meningkatkan hasil produksi. Prinsipnya sangat sederhana, yakni bila ada bunga maka ada madu, begitu pun sebaliknya, jika tidak ada bunga, maka tidak akan ada madu. Karena itu pengusaha bisnis purwoceng ini pun mengusahakan pohon-pohon yang dimilikinya berbunga. Karena bila tidak berbunga maka biaya yang diperlukan untuk merawat lebah pun lebih tinggi. Sehingga nanti harga purwoceng pun menjadi lebih mahal.

Chandra Ekajaya

Pohon yang paling bagus menghasilkan bunga untuk purwoceng adalah pohon jagung dan mangga. Para lebah pun mampu mengolah sari makanan dari bunga yang berkualitas baik menjadi madu yang sangat bermutu. Kadang untuk mengurangi biaya operasional, pengusaha Chandra Ekajaya suka membawa lebah-lebah ternaknya ke daerah yang pohon-pohonnya sedang berbunga. Sebab bila tidak menggunakan bunga, maka ia harus menggunakan gula pasir yang sangat mahal. Setidaknya bila dalam keadaan normal dan sehat, lebah madu mampu menghasilkan madu sebanyak 4-5 kilogram. Setiap setengah kilogram madu digunakan untuk membuat ramuan purwoceng. Maka tidak heran jika khasiat dari ramuan purwoceng disenangi oleh seluruh masyarakat dunia. Berbekal dari penglaman-pengalaman yang lalu, maka pengusaha ini menanam banyak pohon mangga dan jagung, supaya lebah-lebah tersebut tidak kekurangan makanan. Bila lebah-lebah tersebut sehat, maka hasil produksinya pun akan meningkat. Sehingga purwoceng bisa dijual lebih murah kepada masyarakat.

Kini di tahun 2017 ini, setiap tahunnya pengusaha Chandra Ekajaya yang berasal dari Jawa Timur ini mampu menghasilkan 35 juta ton ramuan purwoceng setiap tahunnya. Bahkan saat ini dengan berkembangnya teknologi, sudah banyak purwoceng yang dibungkus dalam bentuk sachet. Sehingga memudahkan dan membuat masyarakat gampang dalam mengonsumsinya. Semoga saja dengan adanya pemutakhiran selalu seperti ini masyarakat dunia bertambah sehat dan sejahtera.

Selanjutnya Tentang Pengusaha Sukses Chandra Ekajaya Young Entrepeneur!!

Chandra Ekajaya: Ilusi Kapitalisme Pendidikan

Chandra Ekajaya Ilusi Kapitalisme Pendidikan

Pengusaha Chandra Ekajaya, di bulan Maret ini mencoba mengingatkan masyarakat sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia untuk merefleksikan sistem pendidikan yang sudah dijalankan oleh negara ini. Seperti yang pernah disinggung oleh dirinya di beberapa tulisan yang lalu, bahwa pendidikan merupakan ujung tombak dari kebudayaan. Bahkan beberapa pendiri bangsa menyebutkan bahwa pendidikan adalah cara yang paling jitu dan ampuh untuk membangkitkan roh serta semangat bangsa untuk terus maju. Sepertinya rakyat dan pemerintah saat ini sudah mulai sadar bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Mereka pun sedang meneliti pendidikan-pendidikan masa lalu yang pernah dipraktikkan di Imperium Nuswantara. Mereka mengambil nilai-nilai yang bermanfaat, kemudian mengelaborasinya dengan kebutuhan di masa sekarang. Setidaknya bangsa dan negara ini sudah mulai peduli dengan kebutuhan generasi mudanya akan sistem pendidikan. Pemuda merupakan tulang punggung kehidupan negara. Itulah harapan yang membuat bangsa dan negara ini masih optimis.

Bila berbicara regenerasi, maka generasi muda inilah yang nantinya akan menggantikan generasi sebelumnya menduduki jabatan pemerintahan. Baik dalam lingkup nasional, provinsi, kabupaten atau kota, kecamatan, kelurahan, hingga wilayah kampung atau desa. Bagaimana pun juga merekalah yang akan menentukan nasib bangsa dan negara ini untuk masa-masa yang mendatang. Oleh sebab itu, sistem pendidikan tidak boleh tak diacuhkan, sebab bila nantinya sistem pendidikan ini diabaikan, maka sangat mengerikan bila membayangkan akan menjadi seperti apa nantinya bangsa dan negara ini. Para pemangku kebijakan yang diamanahkan untuk mengelola sistem pendidikan Indonesia menjelaskan bahwa tujuan dari pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik supaya menjadi manusia yang yakin, percaya, beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sudah masuk di dalam formula dasar negara dan bangsa ini, yakni Sila Pertama Pancasila. Kemudian tujuan yang lainnya adalah supaya generasi muda bangsa ini nantinya mempunyai akhlak yang mulia, berpengetahuan, kreatif serta inovatif dan mandiri.

Chandra Ekajaya Ilusi Kapitalisme Pendidikan

Tanggungjawab merupakan kewajiban bagi seluruh warga negara dan rakyat Indonesia. Supaya ilmu atau pun pendidikan yang didapatkan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu pemerintah juga berperan aktif dalam menciptakan sistem pendidikan yang sesuai bagi generasi muda untuk masa depannya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pun tujuan didirikannya negara Indonesia ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan dalam pasal di dalamnya, negara ini mempunyai visi dan misi yang mendunia. Bagaimana tidak? Lihat saja bab yang berbicara mengenai pendidikan. Dikatakan dalam pasal tersebut bahwa tujuan pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk persatuan bangsa dan bagi kemajuan peradaban serta kesejahteraan manusia. Meskipun tampak mulia dan sangat berperan aktif dalam pendidikan dunia, sayangnya hasil yang dirasakan oleh masyarakat tidak seperti yang didambakan dan dicita-citakan oleh bangsa dan negara ini. Bisa disebut negara ini telah gagal menghasilkan generasi muda yang terdidik dan mencerdaskan. Banyak sekali peristiwa dan fenomena yang mengiris dan menyayat hati.

Misalnya saja banyak anak sekolah yang justru tawuran. Mereka lebih suka berkelahi, itu pun tidak secara jantan. Inilah kesalahan karena sistem pendidikan yang dianut oleh bangsa dan negara ini menggunakan sistem pendidikan Barat dan Timur Tengah. Jika sistem pendidikan yang dianut oleh Indonesia merupakan sistem pendidikan peninggalan leluhur, maka tawuran antarpelajar tidak akan pernah terjadi. Setidaknya jika mereka berkelahi, mereka akan berkelahi secara jantan dan kesatria. Jika sistem pendidikan leluhur yang digunakan, maka tidak mungkin terjadi kasus-kasus yang tidak bermoral, seperti pergaulan bebas, aborsi, narkoba, dan bahkan pembunuhan. Perilaku dan sikap kriminal seperti ini yang berbahaya bagi masa depan bangsa dan negara ini. Sistem pendidikan yang dianut oleh negara ini justru hanya menghasilkan banyak pecundang dan orang yang senang dengan maksiat. Artinya sudah sangat jelas bahwa ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia, apakah itu? Kesalahan itu bernama kapitalisme pendidikan. Meskipun tidak mengklaim, tetapi nilai, sifat, dan bentuknya sudah mendarah daging di pendidikan Indonesia.

Bagi kapitalisme, pendidikan adalah barang mewah. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan aksesnya. Banyak anak-anak yang kurang mampu secara finansial akhirnya tidak bisa mengakses pendidikan yang nantinya berguna untuk mengangkat harkat dan derajatnya. Maka tidak bisa disalahkan bila akhirnya mereka terjun ke dunia kriminal karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Permasalahannya sungguh sangat rumit. Bahkan pelajaran yang berhubungan dengan moral, misalnya saja pelajaran agama pun ilmu-ilmu yang diberikan hanya sebatas hafalan untuk meraih nilai yang tinggi pada saat ujian. Sedangkan substansi ilmu tersebut yang berguna sebagai panduan dan pedoman hidup justru diabaikan. Maka sangat wajar jika sistem pendidikan hari ini hanya menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai prestasi tinggi tetapi secara roh dan semangat sangat kering. Titik utama permasalahan ini adalah adanya pemisahan antara pendidikan, seni, dan spiritualitas. Padahal ketiga hal tersebut merupakan manifestasi dari kebudayaan. Ketiganya merupakan ujung tombak pada sektornya, dan saling berkaitan.

Chandra Ekajaya Kapitalisme Pendidikan

Sistem kapitalisme dalam pendidikan menjadikan setiap pendidik atau pun lembaga pendidikan sangat berorientasi pada uang. Karena itu biaya pendidikan semakin mahal, sedangkan pemerintah untuk menggaji para guru untuk dapat bertahan hidup pun masih kesusahan. Inilah yang dimaksudkan dengan ilusi kapitalisme pendidikan, dimana sistem tersebut seolah-olah memberikan tawaran masa depan yang cerah dan gemilang, serta bisa dijadikan jaminan, karena menurut salah satu universitas negeri yang terkenal pendidikan adalah investasi peradaban. Pengusaha Chandra Ekajaya sangat tidak sepakat dengan sistem pendidikan yang berorientasi uang tersebut. Ia justru menganjurkan supaya bangsa ini kembali menggali sistem pendidikan peninggalan leluhur. Sehingga seluruh elemen masyarakat dapat merasakan pendidkan yang mencerdaskan. Tetapi setidaknya pemerintah memang sudah mengupayakan untuk memberikan pendidikan gratis, meskipun dengan kualitas yang sangat rendah, karena bagaimana pun negara ini sedang mengalami defisit keuangan. Di dalam sistem kapitalisme, kekayaan negara tidak akan pernah cukup, karena kekayaannya hanya dikuasai oleh beberapa orang. Sehingga kepemilikian modal tidak merata, makanya negara mengalami defisit.

Pengusaha Chandra Ekajaya menjelaskan bahwa sejarah masa lalu Indonesia adalah solusinya. Karena zaman dahulu dikisahkan bahwa penduduk manca negara justru belajar ke Indonesia, terutama di kawasan Sriwijaya. Kemudian untuk penduduk Nuswantara diberikan tempat khusus untuk belajar di pulau Jawa, tepatnya di kerajaan Lemuria. Bila pemerintah dan rakyat Indonesia mau belajar dari masa lalu, kemudian belajar untuk menyesuaikan dengan kebutuhan di zaman sekarang, lalu berusaha untuk melampauinya, maka bangsa dan negara ini akan menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan teknologi dari seluruh dunia. Maka tidak menutup kemungkinan jika di masa lalu rakyat Nuswantara sudah menjadi poros sekaligus rujukan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi dari seluruh dunia. Hal ini bisa dibuktikan melalui bahasa dan bangunan-bangunan arsitekturnya.

 

Selanjutnya Tentang Pengusaha Sukses Chandra Ekajaya Young Entrepeneur!!