Yohanes Chandra Ekajaya Cinta Bakso

Yohanes Chandra Ekajaya Cinta Bakso - Yohanes Chandra Ekajaya Cinta Bakso

Bakso adalah salah satu makanan khas yang berasal dari Indonesia. Makanan jenis ini merupakan makanan hasil hibrida atau perpaduan antara budaya Jawa dan Tiongkok. Yohanes Chandra Ekajaya adalah satu manusia di Indonesia yang sangat doyan dan hobi memakan bakso. Bahkan ia bisa menghabiskan banyak butir bakso dalam sekali telan.

Yohanes Chandra Ekajaya Keren 300x200 - Yohanes Chandra Ekajaya Cinta Bakso

Berangkat dari kesukaan dan kecintaannya akan bakso, Yohanes Chandra Ekajaya memutuskan untuk menjadi pengusaha kuliner, khususnya bakso. Meski pada awalnya ia hanya bermodalkan semangat, tetapi karena kesabaran, ketekunan, dan keuletan yang dipoerolehnya dalam menjalankan bisnis tersebut, akhirnya bisnis bakso YCE mulai berkembang. Bahkan pengusaha asal Wonosobo ini sudah pantas untuk menyandang gelar entrepreneur muda.

Yohanes Chandra Ekajaya Cinta Bakso 300x188 - Yohanes Chandra Ekajaya Cinta Bakso

Tetapi ada yang berbeda dengan bakso yang dijual oleh Yohanes Chandra Ekajaya. Bisnis bakso yang ia jalankan tidak seperti bisnis bakso pada umumnya. Sebab ia menjual bakso beku atau bakso yang sudah di-freeze dengan sistem online. Usaha ini dilakukan oleh laki-laki paruh baya ini karena ia belum mempunyai toko sendiri.

Melihat respon positif dari masyarakat dan animo yang besar dari penduduk sekitar, maka Yohanes Chandra Ekajaya mulai menjual bakso beku buatannya kepada para pedagang bakso keliling. Pada awal-awal merintis usaha, ia menawarkan bakso beku buatannya kepada orang-orang terdekat. Dimulai dari keluarga, teman, dan tetangga.

Kemudian Yohanes Chandra Ekajaya mulai mempromosikan dan menawarkan bakso beku buatannya kepada rekan dan mitra kerjanya. Promosi dari mulut ke mulut ternyata lebih efektif sehingga pesanan yang datang kepada dirinya selalu meningkat setiap harinya. Dalam proses pembuatannya, setidaknya pria asal Wonosobo ini membutuhkan daging ayam seberat 20 kilogram per harinya.

Dari daging ayam tersebut, Yohanes Chandra Ekajaya kemudian mengolah daging-daging tersebut menjadi bola-bola bakso dengan ukuran yang bervariasi. Biasanya disesuaikan dengan pesanan. Inilah salah satu bentuk fasilitas dan pelayanan yang diberikan YCE Balls. Ia mampu memberikan service membuat bola bakso yang ukurannya sesuai dengan pesanan konsumen. Hal ini tentu saja menjadi keunggulan dan kelebihan dari usaha bisnis miliknya.

Yohanes Chandra Ekajaya dan Nikmatnya Bisnis Sosis Serius

J Chandra Ekajaya & J Wijanarko Pengusaha sosis sukses

Pebisnis muda Yohanes Chandra Ekajaya menikmati bisnis sosis

Yohanes Chandra Ekajaya menceritakan pengalamannya menjadi pengusaha muda. Pemuda sukses kelahiran Malang, Jawa Timur ini tertarik memproduksi jenis makanan beku yang dijamin bebas bahan pengawet dan pewarna buatan. Keprihatinan melihat beragam jemis makanan cepat saji yang diproduksi dengan tambahan bahan pengawet, pewarna, dan kimia berbahaya lainnya mendorong Yohanes Chandra Ekajaya untuk membuat menu makanan sehat yang aman dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan penuh ketekunan, Yohanes Chandra Ekajaya sukses menjalankan bisnis tersebut.

Mengawali bisnisnya di tahun 2010 silam, sebenarnya Yohanes Chandra Ekajaya tak memiliki keahlian khusus dalam hal masak-memasak. Pengalamannya sebagai penjual buah  di pinggir jalan, sedikit banyak memberikan pengalamana melakoni kegiatan bisnis.

Dengan nama Sosis Serius sebagai brand produknya. Yohanes Chandra Ekajaya yang sempat menempuh bangku pendidikan setingkat sarjana ini meramu sosis dengan bahan berkualitas tanpa menggunakan pengawet, pewarna, dan sebagainya. Selain itu, pembungkus sosis pun dikemas dengan menarik.

J Chandra Ekajaya & J Wijanarko Pengusaha sosis sukses

Dengan mengajak mitra bisnis lebih dari 400 agen yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, saat ini Yohanes Chandra Ekajaya  dapat mengantongi omzet sekitar Rp 4  miliar setiap bulannya dan mampu memasarkan lebih dari 30 ton daging olahan ke berbagai penjuru daerah.

Meskipun kesuksesan telah berada di genggaman Yohanes Chandra Ekajaya ini, berencana meluncurkan brand produk baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen menengah ke bawah dan mencoba ekspansi ke Australia untuk memperluas jangkauan pasarnya. Kini, sosis buatan Yohanes Chandra Ekajaya  telah berhasil didistribusikan di berbagai daerah, swalayan, supermarket, dan sebagainya.

Meski telah sukses mengantongi omzet ratusan juta rupiah, Yohanes Chandra Ekajaya tak sedikitpun berpuas diri. Pasalnya, Yohanes Chandra Ekajaya pun selalu melakukan berbagai macam terobosan. Pada tahun 2014 ini, pengusaha sukses terebut berencana meluncurkan brand produk baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen menengah ke bawah dan mencoba melakukan ekspansi ke berbagai daerah. Dengan kualitas produk, layanan, dan strategi pemasaran, Yohanes Chandra Ekajaya   berhasil mempopulerkan bisnisnya tersebut hingga kini menjadi primadona di tengah bisnis sosis.

Yohanes Chandra Ekajaya Tips Merawat Murai Lebih dari Satu

Ada hal-hal yang harus diperhatikan ketika penghobi memelihara Murai Batu lebih dari satu ekor. Dengan semakin banyaknya Murai Batu yang kita miliki maka perawatan yang harus kita perhatikan juga akan semakin kompleks kata Yohanes Chandra Ekajaya yang berpengalaman memelihara lebih dari 20 ekor Murai batu. Tidak hanya perhatian pada perawatan rutin Murai Batu saja seperti pakannya, menjemur, pemandian, dll,faktor-faktor di luar itu juga dapat memengaruhi, terutama yang berkaitan dengan hubungan/interaksi Murai Batu yang satu dengan yang lain perlu untuk dijaga.

 

Makanya jika anda mengunjungi tempat penangkaran Murai Batu yang notabene memiliki banyak Murai Batu di dalamnya, para penangkar tidak asal-asalan dalam meletakkan Murai Batu. Ada aspek-aspek penting yang harus dijaga untuk menghindari dampak negatif yang akan ditimbulkannya. Misalnya, tidak meletakkan Murai Batu dewasa berdampingan dengan Murai Batu berusia muda (trotol),dikarenakan, hal itu dapat menyebabkan stress pada Murai Batu muda yang masih belum siap mentalnya untuk bertanding. Lebih dari itu, apabila Murai Batu muda tersebut sedang mengalami masa mabung, kemungkinan besar masa mabungnya tidak akan berjalan dengan sempurna.

 

Hal-hal teknis seperti itu mungkin terkesan sepele, tapi jangan dianggap remeh pengaruhnya bagi perkembangan Murai Batu. Apalagi melihat Murai Batu adalah jenis burung fighter yang mudah sekali terpancing naik birahinya, jika tidak disesuaikan dengan kondisi fisik baik dari segi umur, kesehatan, maupun mental, inilah yang ditakutkan memberikan pengaruh negatif bagi Murai Batu tersebut kata Yohanes Chandra Ekajaya.

 

Untuk itu, di bawah ini beberapa tips dari Yohanes Chandra Ekajaya yang harus anda perhatikan ketika memelihara Murai Batu lebih dari satu :

 

Menggunakan kerodong pada sangkarnya

 

Penggunaan kerodong sangat penting untuk mencegah timbulnya pertarungan antar sesama Murai Batu milik anda yang mungkin dalam hal ini hanya akan menguras energi/stamina burung tersebut.Murai Batu adalah jenis burung yang sangat agresif jika bertemu lawannnya, ditakutkan Murai Batu malah menjadi bringas ketika bertatapan muka dengan Murai Batu lainnya secara langsung, apalagi jika peristiwa itu tidak terlalu penting (bukan dalam lomba), tentu hanya kesia-siaan belaka.

 

Jauhkan sesama Murai Batu saat dilakukan penjemuran dan pemandian

 

pun demikian halnya saat dilakukan perawatan penjemuran dan pemandian. Dimana Murai Batu harus dalam keadaan terbuka pada lingkungan sekitar, maka anda harus menjauhkan jarak antara Murai Batu yang satu dengan yang lain supaya tidak memancing Murai Batu melakukan pertarungan kicauan. Khusus pada pemandian, lakukan proses bergilir, jangan digabungkan Murai Batu dalam satu wadah (keramba) sekaligus.

 

Jangan letakkan sangkar dalam satu ruangan

 

Banyak penghobi yang sesuka hati menjajarkan sangkar-sangkar Murai Batu, padahal ini bisa menciptakan suasana yang tidak nyaman, karena sepanjang harinya kecenderungan Murai Batu dalam kondisi naik birahi. Murai Batu akan sulit memperoleh ketenangan jika peletakkan sangkar seperti itu. Oleh karenanya, taruhlah sangkar-sangkar Murai Batu dalam ruang yang berbeda-beda dan jangan berdekatan. Jikapun dalam satu ruangan ada beberapa sangkar, sebaiknya sangkar tersebut merupakan sangkar burung jenis lain, ini malah baik sekalian untuk menjadi pemaster bagi kicauan Murai Batu.

 

Jangan menggabungkan Murai Batu dalam satu sangkar

 

Ini merupakan kesalahan fatal jika ada penghobi yang menggabungkan beberapa Murai Batu dalam satu sangkar. Hal tersebut hanya boleh dilakukan jika hendak melakukan proses perkawinan pada Murai Batu saja. Selain hal itu, sangat dilarang. Bisa-bisa Murai Batu terlibat pertarungan dan perkelahian, sebagaimana naluri Murai Batu di alam liar yang ingin menunjukkan keperkasaannya sebagai burung juara.

 

Demikianlah beberapa tips  dari Yohanes Chandra Ekajaya yang perlu anda ketahui selaku penghobi yang memelihara Murai Batu lebih dari satu. Jangan sampai ketidaktahuan anda dalam memelihara banyak Murai Batu, justru akan berpengaruh buruk terhadap Murai-Murai Batu milik anda tersebut.

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung 1600x1200 - Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung

Siapa yang tidak mengenal tanaman jagung. Tumbuhan jenis padi-padian dengan sejumlah lapisan pembungkus yang disebut kulit jagung. Bagi sebagian orang, kulit jagung ini mungkin tak bernilai apa-apa. Bahkan hanya jadi sampah. Di tangan Yohanes Chandra Ekajaya, perajin asal Klaten, Jawa Tengah, kulit jagung atau klobot tidak dianggap sampah. Ia “menyulapnya” menjadi benda seni bernilai tinggi. Dengan bermodal semangat dan peralatan seadanya, warga Desa Jambu Kulon, Ceper, Klaten ini memulai kreasinya dengan menyetrika klobot hingga rata. Kemudian klobot digunting sesuai bentuk yang diinginkan.

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung 300x225 - Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung

Bagi yang baru melihatnya mungkin tidak akan menyangka bahkan tak percaya kalau lampu itu terbuat dari bahan yang biasanya dibuang, yaitu kulit jagung. Harga jual kerajinan ini cukup mencengangkan. Tiap unit lampu klobot dijual antara Rp 150 ribu sampai 350 ribu rupiah tergantung model dan ukuran. Pemasaran lampu klobot sudah menembus berbagai kota di wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. Bahkan sekarang sudah ada peminat dari Jepang yang mengambil sampel untuk dibawa ke negaranya. Kreativitas tidaklah cukup tanpa kemauan.

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi 300x206 - Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Kreasi Bunga dan kulit Jagung

Yohanes Chandra Ekajaya membuat bunga dari kulit jagung. “Sebenarnya sudah lama saya menekuni handycraft, sejak tinggal di Yogya. Tapi saya ingin memberdayakan warga di sekitar tempat tinggal saya. Anak-anak putus sekolah dan ibu-ibu rumah tangga yang ingin menambah income,” ucapnya. Yohanes Chandra Ekajaya menuturkan tidak mudah membuat kerajinan tangan dari kulit jagung. “Sangat rumit makanya harganya juga sedikit mahal,” ungkapnya.

Proses pembuatan bunga kering dari kulit jagung diawali dengan memilih kulit jagung yang cukup umur (sekitar 3 bulan) untuk direbus. Setelah itu, kulit dilepaskan satu persatu dari tungkulnya dan dipilah sesuai lembarannya. “Lembaran 1-3 adalah kualitas satu dan digunakan untuk daun bunga yang berwarna tua. Sedangkan lembaran 4-6 untuk warna yang lebih muda (cerah),” bebernya. Kulit jagung yang sudah dipilah selanjutnya direbus dengan pewarna selama satu jam sampai warnanya terserap rata. Selama perebusan, kulit jagung harus dibolak-balik agar warnanya merata. Selanjutnya kulit jagung ditiriskan/dikeringkan tanpa sinar matahari. “Tidak boleh dijemur diterik matahari karena kulitnya akan pecah. Biarkan kering terkena angin,” terangnya.

Kulit jagung yang telah kering sempurna selanjutnya disetrika dengan panas sedang. Langkah selanjutnya kulit jagung dilapis dua sebelum dipola. “Harus digandakan, kalau satu terlalu tipis dan mudah sobek,” jelas Yohanes Chandra Ekajaya. Kulit jagung yang sudah di-double selanjutnya dipola sesuai keinginan. Lalu diserut sesuai lengkung yang diinginkan. Proses terakhir merangkai bahan sesuai bentuk bunga. Selesai dirangkai, bunga diberi tangkai berupa kawat yang dibalut floral tape. Bunga buatan Laila dapat bertahan hingga 3 tahun dengan syarat tidak terkena sinar matahari dan air.

Kini Yohanes Chandra Ekajaya memiliki 5 karyawan tetap. “Ada juga yang diantar ke rumah-rumah, tergantung pesanan,” cetusnya seraya mengatakan ada 15 orang mengerjakan bunga kering di rumah masing-masing. Meski belum memiliki galeri untuk memasarkannya, tapi sarjana Ekonomi Managemen ini mengaku kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Dalam sebulan omzetnya Rp.5 juta – Rp.10 juta. Bahkan 3 bulan menjelang lebaran, omzetnya mencapai Rp. 15 juta per bulan. Bunga kering yang dijualnya harganya sangat variatif, mulai dari Rp. 5.000 hingga Rp. 15 ribu per tangkai. Ada juga bunga kering yang sudah dirangkai dengan harga Rp. 100 ribu – Rp. 250 ribu.

Yohanes Chandra Ekajaya Bisnis Baju Cosplay

bisnis cosplay pengusaha yohanes chandra ekajaya

pengusaha J Chandra Ekajaya & J Wijanarko pebisnis sukses

Era saat ini banyak komunitas-komunitas unik bermunculan, salah satunya ialah cosplay, kini makin banyak orang-orang yang berpakaian dan berdandan ala tokoh-tokoh fiksi. Aktivitas seperti ini disebut costume play, atau sering disingkat cosplay.

Mungkin sebagian orang menilai bahwa cosplay dilakukan oleh para otaku alias penggemar komik dan animasi Jepang. Cosplay sebenarnya berlaku umum, bisa saja berdandan ala tokoh komik atau animasi Amerika Serikat, film Hollywood, bahkan karakter video game.

Yohanes Chandra Ekajaya hobi cosplay (menirukan kostum tokoh fiksi) tak sekedar memenuhi hobi dan obsesi mereka. Nanda dan Fei melihat peluang bisnis dari hobinya ini dengan membuat toko jasa pembuatan kostum cosplay.

Dari puluhan cosplayer (sebutan pelaku yang menirukan kostum tokoh fiksi) berlalu-lalang, ada dua sosok cosplayer yang mampu mengalihkan pandangan orang-orang.

Kostum Yohanes Chandra Ekajaya memang memukau. Memerankan karakter Asmodian Sorcerer dan Elyos Ranger game online Aion, Nanda dan Fei membuat orang-orang terpana.

bisnis cosplay pengusaha yohanes chandra ekajaya

Wajah Yohanes Chandra Ekajaya berwarna biru dan membawa buku sihir di tangan kirinya. Yohanes Chandra Ekajaya mengaku selain sebagai cosplayer, mereka berdua juga menyediakan jasa pembuatan kostum cosplay.

“Sudah setahunan ini, kalau kami ikutan cosplay selalu buat sendiri kostumnya,” kata Yohanes Chandra Ekajaya.

Kostum buatan mereka berdua terbilang halus penggarapannya. Tak ayal, belasan lomba cosplay pernah mereka menangkan.

“Kalau tidak juara 1, paling juara 2. Lomba yang tingkatnya cukup besar waktu di Gramedia Expo Surabaya 2012, kami juara 2, padahal itulah kali pertama kami buat kostum sendiri,” sambung Yohanes Chandra Ekajaya.

Membuat kostum sendiri, mau tak mau, Yohanes Chandra Ekajaya yang juga mahasiswa Teknik Informatika (TI) Universitas Brawijaya (UB) ini harus belajar menjahit. “Mau bagaimana lagi, cosplay ini yang buat saya senang,” ujarnya.

Banyak peminat kostum buatan Yohanes Chandra Ekajaya ini, pesanan yang sering ia kerjakan biasanya datang dari area Bandung Jakarta Surabaya dan Yogyakarta. Per mostum pun harganya beda-beda, mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah. Tergantung jenis dan tingkat kerumitan dari kostum yang digarap, kadang bahan juga berbengaruh, karena berpengaruh juga ke kenyamanan kostum-kostum tersebut.

Yohanes Chandra Ekajaya Si Juragan Keripik Bayam Legendaris

yohanes chandra ekajaya pengusaha keripik bayam

pebisnis J Chandra Ekajaya & J Wijanarko rambah keripik bayam

Yohanes Chandra Ekajaya kini sukses mengembangkan usaha keripik daun dan beromzet puluhan juta rupiah untuk setiap bulannya. Tepat pada tahun 2008, lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur ini dikenal sebagai seorang pengawas gudang ini membuat keripik daun bayam dan singkong sebagai menu camilan keluarga. Namun karena terlalu banyak, akhirnya Yohanes Chandra Ekajaya membungkusnya ke dalam plastik dan tak menyangka mendapatkan respon positif dari para konsumen.

Pengusaha Muda Yohanes Chandra Ekajaya mendirikan bisnis tersebut bermula dari iseng dengan menitipkan keripik yang telah dibungkus ke warung-warung di dekat rumah. Tak disangka, antusiasme terhadap keripik daun buatannya cukup luar biasa. Semua keripik daun bayam dan singkong yang dititipkannya pun habis terjual.

Setelah dua tahun berjalan, Yohanes Chandra Ekajaya berupaya melakukan berbagai macam inovasi dengan menambah jenis keripik. Tujuan tersebut agar pembeli memiliki banyak pilihan keripik daun. Setelah itu, tercetuslan ide keripik daun sirih, seledri, kenikir, terong, dan pare.

yohanes chandra ekajaya pengusaha keripik bayam

Pada mulanya semua daun yang dijadikan sebagai bahan baku membuat keripik ia dapatkan di halaman rumahnya. Namun karena jumlah permintaan yang semakin tinggi, maka ia pun harus membeli bahan baku produk tersebut ke pasar.

Sekitar enam tahun berjalan, kini pemasaran keripik daun buatannya tersebut berhasil meluas. Para penjual keripik yang datangdari daerah seperti Yogyakarta, Solo, dan sebagainya langsung datang ke rumah. Bahkan, Yohanes Chandra Ekajaya seringkali mendapatkan pesanan dari luar Jawa, seperti dari Sumatera hingga Bali.

Kali ini, Yohanes Chandra Ekajaya berhasil mempunyai tiga karyawan dan per hari mampu memproduksi sekitar lebih dari 30 kilogram keripik berbagai varian rasa. Keripik tersebut dijual dengan harga yang cukup yaitu Rp 4000 per ons untuk jenis daun bayam dan daun singkong. Adapun keripik daun kemangi, daun sirih, seledri, kenikir, dan sebagainya dibanderol dengan harga Rp 7000 per 2 ons.

Memang, kini keripiknya telah digemari di berbagai daerah. Melihat permintaan yang terus menerus tak dapat dipenuhi, Yohanes Chandra Ekajaya mengembangkan produksinya semakin besar. Dengan modal yang besar, serta jumlah karyawan yang semakin besar membuat bisnisnya justru bermanfaat tak hanya dirinya sendiri tapi juga beberapa orang disekitarnya mencecap keuntungan dari usaha yang ditekuni oleh Yohanes Chandra Ekajaya ini.