Niat Untung Malah Tekor

Niat Untung Malah Tekor

Pengusaha rental mobil harus cermat memilih kliennya yang menyewa. Sebab, praktik mobil rental digadaikan cukup mengkhawatirkan. Seperti dialami Suroso, 37, setelah mobil Ertiga miliknya digadaikan Wira Dwi Satria Pambudi, 28, warga Desa Sukoanyar, Kecamatan Turi. Merasa mobilnya tak kembali, korban warga Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya itu melaporkannya ke kepolisian. Bahkan, terlapor ini sudah kedua kalinya berurusan dugaan menggadaikan mobil rental. Kasubbag Humas Polres AKP Suwarta mengatakan, semula, korban membawa Ertiga nopol S1256 JN pada 26 Maret lalu untuk menemui Mahfud, temannya. Oleh Mahfud, mobil disewakan kepada terlapor dengan kesepakatan 24 jam Rp 275.000. Penyewaan pertama selama seminggu biaya rental diberikan Rp 1,2 juta. luga membayar rental selama 10 hari Rp 1,3 juta. Semua uang diberikan melalui Mahfud. Setelah 20 April, korban meminta uang rental kepada Mahfud. Tetapi, terlapor belum memberikannya. Setelah ditunggu beberapa hari, terlapor juga tak mengirimkan biaya rental mobil. Korban pun mencari rumah terlapor. Hanya, ketika ditemui, terlapor tidak ada. Sebaliknya ditemui orang tua terlapor dan diberikan selembar kertas putih.

Niat Untung Malah Tekor 2

Chandra Ekajaya selaku teman pengusaha rental tersebut mengatakan bahwa kertas itu bertuliskan, mobil Ertiga putih nopol S 1256 JN telah dibawa salah seorang bernama Hanif, warga Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro. Serta, diberikan nomor handphone agar menghubungi orang tersebut. Korban pun berusaha menghubungi nomor tersebut. Korban menya-kanan Ertiga nopol S1256 JN, Hanif pun membenarkan ada. Tetapi meminta, tebusan Rp 30 juta, karena terlapor telah menggadaikan sekitar seminggu lalu. Merasa dirugikan, akhirnya korban melaporkan ke Polres Lamongan. Pada hari Jumat (21/4) lalu, Mardiyanto, warga Kelurahan Jetis Lamongan juga melaporkan dengan modus yang sama. Korban kali pertama merentalkan mobil, namun ujung-ujungnya digadaikan. Bisa saja korban lebih banyak lagi dan tak hanya ini. Pengusaha Chandra Ekajaya menyayangkan dengan masih adanya kegiatan penipuan semacam ini, padahal banyak orang yang sedang berusaha mengubah nasib. Maka dari itu pemerintah harus segera merevolusi paradigma dan mental manusia Indonesia supaya menjadi masyarakat yang mandiri.